17.12.09

Nikah Mut'ah Disisi Islam

Sejak beberapa dekad yang lalu telah terjadi kesepakatan dikalangan ulama Sunni maupun Shiah bahwa Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan Firman Allah SWT :

“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu ni`mati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

(QS. An Nisa [4] : 24}

Tetapi kedua golongan Islam (Suni dan Shiah) tetap berbeda pendapat tentang PENGHARAMAN Nikah Mut’ah.

Golongan Suni mempunyai tiga pendapat sehubungan dengan pengharaman Nikah Mut’ah, yaitu :

1. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah telah diharamkan, kemudian dihalalkan, kemudian diharamkan, kemudian dihalalkan dan akhirnya di haramkan, berdasarkan Hadist Nabi SAW.

Bantahan Shiah :

a. Hadist Nabi SAW tidak biasa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWT

pada Al Qur’an. Karena hanya Allah SWT yang berhak memanzukhkan ayat Al Qur’an.

b. Hadist2 telah pengharaman yang berulang-ulang itu semuanya merupakan Hadist Ahad yang tidak berkuataan sahih.

c. Tidak mungkin Rasulullah SAW mengharamkan nikah mut’ah karena alasan perzinahan, kemudian menghalalkan lagi, kemudian pengharamkan lagi, kemudian menghalalkan lagi dan akhirnya mengharamkan. Bukankah selama penghalalan kembali itu berarti juga Rasulullah SAW menghalalkan perzinaan?

2. Pendapat yang mengatakan bahwa Nikah Mut’ah dihalalkan pada masa Nabi SAW, masa Abu Bakar dan dua tahun pertama masa Umar bin Khattab, kemudian diharamkan oleh Khalifah Umar Bin Khattab bersamaan dengan pengharaman Mut’ah Haji (Haji Tamattu).

Bantahan Shiah :

a. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa membatalkan (memanzukhkan) firman Allah SWT pada Al Qur’an, maka apalagi Umar bin Khattab.

b. Kalau Nabi SAW saja tidak bisa mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah (Nikah Mut’ah – QS. An Nisa [4]: 24) , maka apalagi Umar Bin Khattab.

3. Pendapat yang mengatakan Nikah Mut’ah yang tercantum pada QS. An Nisa [4] :24 telah dibatalkan (di naskhkan) oleh Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah SWT:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu` dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.”

(QS. Al Mukminun [23] : 1-6 dan Al Ma’arij [70] : 29-30).

Bantahan Shiah :

Meskipun Surat Al Mukminun (Surat ke-23) dan Surat Al Ma’arij (Surat ke-70) sedangkan Surat An Nisa merupakan Surat ke-4, dalam Mushaf Al Qur’an. Namun berdasarkan turunnya Surat Al Qur’an, maka Surat Al Mukminun merupakan Surat Makkiyah ke- 74 dan Surat Al Ma’arij merupakan Surat Makkiyah ke-79, sedangkan Surat An Nisaa merupakan Surat Madaniyah ke-6.
Tidak Ada Satu Ayat Quran pun Turun Mengharamkan Nikah Bertempoh ini atau Nikah Mutaah

Sehingga tidaklah mungkin Surat Al Mukminun dan Surat Al Ma’arij dikatakan telah membatalkan ayat tentang Nikah Mut’ah pada Surat An Nisaa yang diturunkan belakangan daripada kedua Surat terdahulu. Suatu ayat hanya dapat dibatalkankan oleh ayat lainnya yang diturunkan kemudian, berdasarkan firman Allah SWT :

“Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguh-nya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”

(QS. Al Baqarah [2] : 106)

Berdasarkan penjelasan di atas maka Nikah Mut’ah adalah HALAL berdasarkan QS. An Nisaa [4] : 24. Dan segala sesuatu yang di-HALAL-kan oleh Allah tidak bisa di-HARAM-kan oleh manusia. Dan apa yang Halal menurut Allah SWT pastinya didalamnya hanya mengandung kebaikan serta terbebas dari keburukan. Namun ada diantara manuasia yang merasa dirinya lebih hebat dari Allah SWT, sehingga menilai di dalam Nikah Mut’ah semata-mata hanya terdapat keburukan (seperti diartikan sebagai penghalalan pelacuran, dsb).

Dewasa ini banyak dari kalangan Ulama Suni di Indonesia yang berpendapat bahwa Nikah Mut’ah adalah Halal berdasarkan nash Al Qur’an, dan bahkan tidak sedikit diantaranya yang melakukannya, bukan semata-mata karena kebutuhan seksual, tetapi guna menunjukan ke-halalan Nikah Mut’ah itu sendiri.

Halalnya Nikah Mut'ah bukanlah berarti wajib atau di sunnahkan untuk dilakukan, melainkan siapapun diperbolehkan memilih untuk melakukan ataupun meninggal-kannya (tidak melakukannya). Tetapi ia menjadi wajib bagi sepasang pria wanita yang tidak terikat pada Nikah Daim (Nikah Permanen) yang melakukan hubungan seksual. Karena tanpa Nikah Mut'ah maka hubungan seksual tersebut menjadi tergolongan perbuatan zina yang mendatangkan dosa.

Seseorang boleh saja mengatakan, "Aku tidak memerlukan Nikah Mut'ah, karena aku tidak akan mungkin terjerumus pada perbuatan zina", meskipun sesungguhnya Allah Ta'ala adalah Maha Mengetahui bahwa manusia tidak bisa menahan hawa nafsunya (syahwatnya). Nah Nikah Mut'ah adalah rahmat Allah Ta'ala kepada Umat Muhammad SAW untuk menyelamatkannya dari jurang perzinaan. Nikah Mut'ah adalah solusi Islam sebagai agama terakhir terhadap praktek perzinaan, yang menjangkiti keturunan Adam as sejak generasi awal serta tidak kunjung berhasil dihapuskan semata-mata melalui ancaman dosa dan larangan oleh syariat2 yang diturunkan sebelumnya.

Bagi setiap mukmin tersedia dua alternatif (dalam hal tidak dapat menahan hawa nafsu seksualnya yang tidak tertampung oleh isteri2nya atau yang belum mempunyai isteri tetapi telah cukup umur), yaitu 1). melakukan hubungan seksual dengan Nikah Mut'ah, atau 2). melakukan hubungan seksual tanpa Nikah Mut'ah.

Sementara itu dikalangan umat Islam terjadi perbedaan pendapat tentang halal dan haramnya Nikah Mut'ah. Sebagai seorang yang berakal, bagaimanakah anda menentukan pilihan atas kedua alternatif di atas?

Kebenaran hakiki adalah sisi Allah SWT.

Jika Nikah Mut'ah adalah haram di sisi Allah, maka sekalipun anda melaksananya, tetap tergolong sebagai zina.

Jika Nikah Mut'ah adalah Halal di sisi Allah, maka sungguh merugi jika tidak melaksanakannya, karena seharusnya bisa terhindar dari perbuatan zina, tetapi karena kekerasan kepala, malah terjerumus pada perbuatan zina.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa pembicaraan tentang Nikah Mut'ah sangat tidak disenangi oleh sebagian umat Islam sendiri terutama dari kalangan wanita. Seperti halnya juga berbicara tentang Poligami yang sampai sekarang belum bisa diterima oleh kebanyakan kaum muslimah.

Tetapi berbicara tentang aqidah dan syariat agama bukanlah tergantung pada senang atau tidak senangnya pihak2 tertentu. Slogan ISLAM YANG KAFFAH (Menyeluruh) adalah termasuk dalam hal pembicaraan seperti ini. (Apa yang engkau anggap buruk belum tentu hal itu buruk disisi Allah)

Sebagai penutup, saya kutip ucapan Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as: “Bilamana saja Umar tidak melarang Nikah Mut’ah, niscaya tidak ada lagi seorang mukminpun yang akan terjerumus kedalam zina, kecuali mereka yang benar2 celaka”.

15.12.09

Dr Asri diminta jawab ceramah didakwa fitnah

SINAR HARIAN 17 NOV 2009

SEREMBAN 17 Nov 2009– "Bekas Mufti Perlis, Dr Mohd Asri Zainul Abidin perlu
memberi penjelasan mengenai maksud di sebalik ucapan dalam salah satu
ceramahnya yang dianggap fitnah," kata Yang Dipertua Persatuan Keluarga
Jamalullail Perak Malaysia, Syed Abdullah Syed Osman Jamalullail.

"Dr Asri perlu tampil memberi penjelasan kepada umum berkenaan
ucapan beliau apabila menyentuh mengenai golongan Alawiyyin ketika
mengadakan ceramah di Masjid Alwi, Kangar pada 26 Februari, dua tahun
lalu.

"Pihak persatuan beranggapan apa yang diperkatakan Dr Asri telah
menimbulkan satu penghinaan dan fitnah tanpa disedari apabila
memperkatakan fakta yang salah," katanya ketika ditemui.

Syed Abdullah mendakwa, kenyataan menerusi ucapan dibuat Dr Asri adalah tidak benar.

"Dr Asri tidak boleh sewenang-wenangnya melemparkan fitnah dan
penghinaan sebegitu rupa kerana ia sedikit sebanyak membangkitkan
kemarahan umum terutama mereka yang berketurunan Syed.

Sehubungan itu, katanya, persatuan berharap Dr Asri memberi
penjelasan sebenar mengenai motif sebenar beliau berkata demikian
supaya mampu menyelesaikan segala kekusutan.

Beliau berkata demikian merujuk kepada sebuah laman blog tempatan
yang memaparkan ucapan Bekas Mufti Perlis, Dr Mohd Asri Zainul Abidin
yang berunsur penghinaan serta fitnah kepada golongan Alawiyyin dalam
satu ceramah di Masjid Alwi, Kangar pada 26 Februari 2007

14.12.09

Jemaah tabligh

(Harian Metro)

Oleh Mohd Fadly Samsudin
fadly@hmetro.com.my


KETIKA awal kehadirannya, ramai yang pelik melihat gelagat mereka yang mengusung beg, periuk, cerek dan pinggan dari satu masjid ke satu masjid.

KETIKA awal kehadirannya, ramai yang pelik melihat gelagat mereka yang mengusung beg, periuk, cerek dan pinggan dari satu masjid ke satu masjid.

Dengan ketayap putih di kepala dan berjanggut, mereka sering diberi pandangan negatif.

Namun, lama kelamaan apabila jumlahnya semakin ramai, masyarakat mulai sedar mereka adalah kumpulan pendakwah yang dipanggil 'tabligh'.

Penulis turut mempunyai pengalaman diajak keluar bersama-sama menyertai sebahagian gerak kerja dakwah ketika di kampus.

Ketika itu ahlinya terdiri daripada pelajar sendiri yang akan melawat dari bilik ke bilik bagi menyampaikan peringatan atau tazkirah pendek yang dirungkai daripada hadis nabi atau ayat al-Quran.

Jadi pada setiap malam selepas solat Maghrib, dua hingga tiga ahli jemaah akan bersama dalam sesi tazkirah yang mereka sampaikan.

Mengikut sejarah, tabligh adalah jemaah Islam yang berpusat di India. Ia ditubuhkan pada akhir dekad 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah wilayah di India.

Tabligh dilahirkan bagi mengajak masyarakat India Muslim yang masih berpegang kepada budaya Hindu melaksanakan Islam secara total.

Jemaah tabligh memegang kepada manhaj (formula) yang dijadikan dasar penting sebagai rujukan yang dinamakan Ushulus Sittah (enam dasar).

Ia merealisasikan kalimat thoibah, solat dengan khusyuk dan khudu' (penuh ketundukan), ilmu dan zikir, memuliakan Muslim, membaiki niat dan mengikhlaskannya serta keluar (khuruj) di jalan Allah.

Gerakan ini menjalankan tugas berdakwah tanpa mengambil kira asal-usul mazhab atau aliran pengikutnya.

Jemaah tabligh mempunyai markas di setiap negara dan markas antarabangsa terletak di Nizzamudin, India. Setiap markas daerah dipimpin seorang shura dan kemudian membentuk ratusan markas kecil yang dinamakan halaqah.

Kegiatan halaqah adalah perjumpaan mingguan, sebulan atau mereka keluar (khuruj) selama tiga hari. Khuruj bertujuan meluangkan sepenuh masa berdakwah di masjid atau surau dengan dipimpin Amir.

Ketika ini, mereka banyak menghabiskan masa membaca hadis atau kisah sahabat yang biasanya dipetik daripada kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria.

Kemudian mereka mengunjungi (jaulah) rumah ke rumah dan bermuzakarah. Sepanjang tempoh khuruj itu, mereka akan tinggal sementara di masjid atau surau.

Mereka memasak makanan sendiri dan makan beramai-ramai dalam talam besar.

Jemaah tabligh mengabdikan sepenuh jiwa raga untuk agama dan tidak menyentuh perkara berkaitan politik. Justeru, mereka dianggap kumpulan yang sukakan perdamaian.

Namun, bukan mudah untuk menjadikan seorang dalam jemaah tabligh yang tekun kerana memerlukan kekuatan diri terutama meninggalkan rumah tangga, isteri dan anak untuk tempoh beberapa hari.

Memang bukan perkara mudah melakukan perkara kebaikan kerana syaitan sentiasa membisikkan perkara yang melalaikan.

Usaha jemaah tabligh keluar berdakwah nampak mudah, tetapi terpaksa melalui jalan berliku terutama pandangan masyarakat.

Ada yang diherdik, dimaki, dihalau malah dianggap kutu rayau ketika melakukan tugas dakwah itu. Malah, ada umat Islam sendiri yang menyindir supaya mereka berdakwah kepada golongan bukan Islam daripada menyibuk datang dari rumah ke rumah.

Malah ada juga yang menyarankan aktiviti tabligh diharamkan di Malaysia kononnya ia boleh menyebabkan kemunduran umat Islam.

Justeru, jemaah tabligh memang dilatih menjadi penyabar kerana perkara itu memang sudah dijangka.

Bagaimanapun, jemaah tabligh membuktikan mereka berjuang dengan rela hati apabila sanggup meninggalkan keluarga selama tiga hari, seminggu, 40 hari atau empat bulan untuk mengembangkan agama Allah.

Mereka antara manusia bertuah kerana memperuntukkan sebahagian usia kepada agama, sedangkan ramai manusia berebut-rebut mencari habuan keduniaan.

Bukan semua sanggup berjauhan lama dengan anak dan isteri melakukan kerja dakwah sebegini.

Namun, jemaah tabligh yakin cara dakwah mereka menepati perbuatan Rasulullah s.a.w. Perkara paling penting dalam berdakwah mengikut cara tabligh adalah keikhlasan.

Kemuncak jemaah tabligh di negara ini ialah perhimpunan 200,000 ahli kumpulan itu dari seluruh dunia yang berkampung di kawasan lapang berhampiran Masjid Kuarters Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur (KLIA) Sepang sempena ijtimak Tabligh Sedunia, baru-baru ini.

Jemaah tabligh daripada lebih 40 negara hadir yang membentuk saf solat bermula dari barisan hadapan hingga ke belakang sepanjang lebih satu kilometer (km) manakala setiap saf sepanjang 500 meter.

Penolong Pengarah Institut Latihan Islam Malaysia (Ilim), Zamihan Mat Zin, berkata jemaah tabligh membuktikan mereka dapat mengumpulkan umat Islam dari seluruh dunia. Ini satu perkara yang hebat.

"Namun, mereka perlu mengembang peranan dakwah, tidak hanya di masjid atau surau sebaliknya meluaskan jaringan itu kepada remaja bermasalah, vandalisme, penjara dan pusat pemulihan akhlak.

"Cabang dakwah ini luas dan ia perlu diperkemaskan supaya orang ramai dapat menerima cara penyampaian dakwah kita. Mereka juga boleh mengetengahkan cabang dakwah melalui penulisan dan kebajikan.

"Nabi Muhammad s.a.w berdakwah kepada semua peringkat umur dan latar belakang," katanya.

Zamihan berkata melalui kepelbagaian bentuk dakwah itu seseorang boleh menyampaikannya di mana-mana saja tanpa terhad kepada sebarang waktu.

"Kewajipan memperingati sesama umat itu terletak di setiap bahu kita. Dakwah yang sebenarnya tidak terhad di masjid atau di surau saja.

"Kelompok utama yang perlu kita hampiri adalah di kalangan ahli keluarga kita terlebih dulu sebelum melakukan dakwah kepada individu lain," katanya.

Mengenai keluar (khuruj) berdakwah ke tempat lain, ia bergantung kepada kemampuan diri. Jika mempunyai banyak tanggungjawab, utamakan keluarga dahulu sebelum perkara lain.

"Jika kita keluar menjalankan tanggungjawab berdakwah, tetapi pada masa sama membiarkan isteri dan anak terabai, hukumnya haram.

"Setiap individu juga mempunyai tugas besar terhadap kerjaya dan pelajaran. Pastikan tanggungjawab itu diutamakan," katanya.

Menurutnya, kehadiran jemaah tabligh di masjid atau surau untuk kerja dakwah diharuskan, tetapi mereka perlu menonjolkan disiplin tinggi bagi membolehkan orang lain menghormati mereka.

"Contohnya bersugi, ia memang amalan mereka, tetapi jangan dilakukan tanpa mengira tempat hingga menyebabkan orang lain tidak senang melihatnya.

"Pakaian dan penampilan diri mesti menggambarkan kualiti pendakwah yang Islam mahukan," katanya.

Namun, beliau menganggap jemaah tabligh sudah menjalankan tanggungjawab mereka, sekurang-kurangnya memberi impak kepada usaha mengembangkan Islam secara terbuka.

"Dalam menyampaikan dakwah, jangan kecewa atau marah apabila orang lain tidak menerima pendekatan kita. Apa yang penting penyampaian dakwah itu sudah dilaksanakan.

"Sentiasa melihat kelemahan diri sendiri kerana Rasulullah s.a.w yang maksum pun memohon bertaubat 100 kali sehari, apatah lagi kita manusia biasa," katanya.

12.12.09

Jangan angkuh ada kelebihan ilmu agama

(Berita Harian)

Oleh Azman Zaharia

Menghina, cela orang lain ketika berceramah pamer sifat riak

SATU kewajipan dalam Islam adalah tahdzibun nafs (penyucian diri) tanpa pengecualian. Meninggalkan kewajipan ini menyebabkan kerugian dunia dan akhirat, sedangkan kesucian hati adalah sumber segala keutamaan, sementara kekotoran hati, sumber kehinaan. Akhlak mulia terpancar daripada hati yang bersih, suci dan luhur.

Tidak syak lagi bahawa jiwa yang bersih akan melahirkan tingkah laku dan gerak-geri mulia, sopan dan tertib. Kita mungkin berasa geram dan marah apabila ada kalangan ilmuan agama mengeluarkan kenyataan yang terlalu angkuh dan sombong berbentuk menghina terhadap kalangan ilmuan agama yang lain, lebih-lebih lagi oleh kalangan mereka yang tidak sealiran sama ada dengan individu atau kumpulan dimusuhi.


Bahasa yang diguna untuk mencela dan menghina tidak mencerminkan imej merendah diri dan tawaduk mereka. Apa yang lebih ditakuti ialah lahirnya golongan berilmu tetapi jumud, berani tetapi kurang ilmu, emosi tak bertempat dan berbagai lagi sifat negatif golongan agama ini tetapi mengaku bahawa mereka juga perlu diiktiraf sebagai golongan ulama.

Ulama seperti ini kata Muhammad al-Ghazali, biasanya menjadi tumpuan ramai, kerana gambaran zahir yang kononnya lebih Islamik ini menampilkan keberanian mereka mempertikaikan banyak perkara. Pertikaian remeh-temeh ini terus disuburkan oleh media. Tambahan pula mereka disokong pula oleh golongan 'ulama segera'.

Syeikh Muhammad al-Ghazali pernah menegur mereka yang belajar ilmu hari Sabtu, pada hari Ahad sudah mengajar, hari Isnin sudah ditabal sebagai ulama besar, hari Selasa dengan berani menegur orang lain secara terbuka.

Sikap dan keinginan mendabik dada sebagai golongan yang berilmu tinggi ini boleh menimbulkan rasa angkuh dan sombong dalam diri individu berkenaan. Mereka tidak boleh dikritik apatah lagi daripada kalangan yang tidak sealiran. Inilah bunga-bunga keangkuhan dan kesombongan yang mula mekar dalam diri mereka.

Buanglah jauh-jauh rasa sombong, takbur dan angkuh yang melanda sebahagian daripada ilmuan agama kita. Imam Al-Ghazali pernah menyatakan bahawa cukuplah seseorang itu menjadi takbur apabila ia merasakan dirinya lebih mulia daripada seekor anjing.

Contohilah para sahabat seperti Umar al-Khattab yang begitu menghormati Abu Bakar as-Siddiq kerana menyedari hakikat kedudukan dirinya jika dibandingkan dengan Abu Bakar as-Siddiq. Sesiapa bersikap dengan kesombongan maka ia melakukan dosa.

Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan kami hanyalah orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka segera merendahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takbur." (Surah al-Sajdah: 15).

Mereka yang beriman kepada ayat-ayat Allah terdiri daripada mereka yang bersifat tidak sombong, angkuh dan takbur serta merendah diri tanpa mengecualikan golongan dan individu tertentu yang dikatakan mempunyai kedudukan dan penghormatan tinggi.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah telah memberi wahyu kepada Aku yang memerintahkan supaya kamu semua bersifat tawaduk sehingga tidak ada seorang pun berasa dirinya megah (lebih bangga diri) daripada orang lain dan tidak boleh seseorang itu menzalimi dan melampaui batas terhadap orang lain". (Riwayat Muslim).

Dalam sejarah mencatatkan bahawa Rasulullah SAW sendiri pernah mengutamakan pendapat para sahabat dalam persoalan pengurusan dan perancangan seperti di Badr, Uhud dan banyak lagi peristiwa yang lain.

Bahkan cadangan Salman Al-farisi membina parit sebagai strategi untuk melawan musuh berakhir dengan pembinaan parit mengelilingi Madinah sewaktu perang Khandak sebagai membuktikan penghormatan Rasulullah SAW kepada pandangan sahabat.

Dalam sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, diceritakan satu peristiwa berhubung amalan pendebungaan pokok tamar oleh orang Madinah yang ditegur oleh Baginda dan mereka menghentikan amalannya kerana menghormati Rasulullah SAW.

Akhirnya hasil berkurangan dan apabila Rasulullah mendengar keadaan ini, maka bersabda Rasulullah: "Saya hanya manusia biasa. Hanya apabila saya mengarahkan kamu berhubung persoalan kewajipan keagamaan saja perlu kamu mematuhinya, tetapi sekiranya saya menyatakan sesuatu berdasarkan pendapat saya, ia hanya satu pandangan. Semestinya kamu lebih tahu mengenai urusan dunia kamu".

Jelas bukan semua pendapat yang diutarakan Rasulullah adalah hukum yang tidak boleh dibincangkan atau dipertimbangkan. Sekiranya begitu kaedahnya yang ditunjukkan Rasulullah, maka tidak mungkin semua yang dikatakan oleh ulama dalam soal pendapat dan pandangan semestinya diterima bulat-bulat seolah-olah ia pandangan yang betul.

Sekiranya semua yang dikatakan ulama dianggap bagaikan wahyu, maka kita akan kembali kepada zaman teokrasi. Zaman di mana kuasa yang ada tidak boleh dipertikaikan, apa lagi untuk mengkritik atau memperbetulkan akan kesilapan atas sifat manusia biasa.

Sebab itu, ilmuan Islam mesti sedar bahawa mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam pelbagai disiplin ilmu. Tidak semestinya apabila bergelar ulama, mereka seolah-olah sudah menguasai semua bidang ilmu termasuk ilmu keduniaan.

Pandangan mereka tidak semestinya menjadi fatwa yang tidak boleh ditegur. Sebenarnya boleh ditegur kerana mungkin mereka tidak ada kepakaran dalam aspek berkenaan. Keengganan mereka, yakni ilmuan Islam atau ulama untuk tidak menerima sebarang teguran menjadikan mereka angkuh dan sombong.

Sikap ini menjadi-jadi apabila berlakunya pemujaan dan taksub yang melampau kepada individu terbabit. Sifat melabelkan golongan yang menegur kesilapan mereka sebagai golongan yang tidak setaraf memancarkan sikap angkuh, sombong dan takbur mereka.

Melabelkan ulama yang tidak secocok mengikut aliran mereka dengan gelaran ulama terompah kayu, ulama haid dan nifas, ulama fulus adalah sesuatu yang melampau dan mencerminkan keburukan ulama berkenaan.

Penulis ialah Ketua Pegawai Eksekutif (CEO) Dewan Amal Islami (Damai)

11.12.09

Iran intel chief warns of extent of opposition

TEHRAN, Iran – Iran's top intelligence official denounced senior clerics who he said support the country's opposition, an acknowledgment of the split in the leadership amid the postelection turmoil and a sign of growing pressure by hard-liners within the government to extend the crackdown.

The comments, reported Thursday by the state news agency IRNA, came after this week's widespread student protests, the biggest anti-government rallies in months. The unrest appears to have raised authorities' frustration that a wave of arrests since the June election has failed to crush the opposition.

Intelligence Minister Heidar Moslehi spoke to a gathering of pro-government clerics in the holy city of Qom and warned that the opposition movement — which authorities label as a foreign-backed plot to overthrow clerical rule — extended into the country's high ranks.

"Unfortunately, based on precise intelligence, a lot of forces that were expected to defend the supreme leader instead went with those who rose against the supreme leader, he said, referring to Ayatollah Ali Khamenei, who stands at the top of Iran's clerical leadership.

"The recent plot is like an iceberg floating in the ocean. Its larger part is under the water, while a small part of it is visible," he said in the address Wednesday evening.

A number of prominent clerics have sided with the opposition since mass protests erupted over the election, which the opposition says President Mahmoud Ahmadinejad won by fraud. Most notably, Akbar Hashemi Rafsanjani, a former president and a powerful figure in the clerical establishment, has criticized the postelection crackdown.

Hard-line clerics and politicians have been denouncing Rafsanjani for months. But Moslehi's comments were among the strongest by a figure within the government — and the most sweeping, depicting the opposition as having infiltrated leadership ranks. Moslehi was installed in his post after Ahmadinejad removed his predecessor, reportedly for not taking strong enough action against protesters, activists and opposition figures.

"Shockingly, Rafsanjani expresses the same ideas that come in the statements of (opposition) leaders," Moslehi said. The minister accused Rafsanjani of supporting the idea that the supreme leader should quit if the people do not support him. Under Iran's system, the supreme leader is answerable only to a body of clerics, and hard-liners believe his power comes from God.

Because of his status, Rafsanjani has been viewed as untouchable amid the crackdown. The government has also balked at hard-line pressure to arrest the political leader of the opposition, Mir Hossein Mousavi, likely because such a step could inflame more protests.

Moslehi said authorities would investigate accusations by hard-liners that Rafsanjani's son Mohsen Hashemi has helped fuel unrest. He also broadly lashed out at the sons of some senior clerics who he said were promoting the opposition's pro-reform agenda.

"Through the sons of clerics, the enemy is effecting the thought of some of the country's senior figures," Moslehi said. He said intelligence officials had uncovered a pamphlet outlining "plans for overthrowing the system" in the office of a son of one cleric, whom he did not identify. Under questioning, the son "gave the names of others (involved), which were earthshaking."

The opposition claims that Mousavi was the rightful winner of June's election. The supreme leader declared Ahmadinejad the legitimate victor, and security forces crushed mass opposition protests by hundreds of thousands in the weeks following the vote. Since the summer, the opposition has held smaller protests more sporadically.

More than 200 protesters were arrested in Tehran alone during Monday's student protests, in which tens of thousands marched on campuses around the country. The number of arrests outside the capital has not been announced. In the wake of the rallies, Iran's top prosecutor announced a tougher stance against protesters, saying the courts would no longer show "leniency" and hinting at action against Mousavi and other senior figures.

On Monday, authorities shut down an opposition daily, Hayat-e No, which is run by a brother of the supreme leader, Hadi Khamenei, who has been in the pro-reform camp for years.